Senin, 15 Desember 2014

SEJARAH VIETNAM MASA PRA-DINASTI SAMPAI MASA KEDATANGAN BANGSA PERANCIS

Vietnam (Negara-negara klasik pada puncak kejayaannya)
            Sejarah Vietnam merdeka di rentang waktu akhir kekuasaan Cina abad ke-10 dengan kolonisasi Prancis pada abad ke-19 terbagi dua akibat 20 tahun pendudukan Ming pada awal 1400-an. Dalam bab ini, kita akan melihat bagian pertama sejarah yang berakhir dengan invasi Ming. Periode pertama kemerdekaan dapat dibagi menjadi tiga:
            Pertama, abad ke-10, ketika Vietnam diperintah para penguasa yang  berasal dari keluarga dan daerah berbeda.
            Kedua, Dinasti Ly (1900-1225), dinasti kekaisaran pertama Negara ini yang stabil dan tahan lama.
Ketiga, Dinati Tran (1225-1400) yang kejatuhannya mengakibatkan terjadinya pendudukan Ming. Kendati dalam periode lima pada abad initidak banyak dilakukan ekspansi wilayah, periode ini diwarnai konsolidasi politik dan budaya, serta menjadikan Kerajaan Vietnam sebagai pemain penting yang permanen di kawasan ini.
Seperti disebutkan dalam Bab 2, millennium kekuasaan Cina atas Vietnam Utara menjadi saksi periode-periode perlawanan dan pemberontakan orang Vietnam yang mampu mengambil keuntungan dari masa-masa ketidakstabilan politik dalam Kekaisaran Tengah yang melemahkan pengawasannya terhadap wilayah perbatasan. Episode-episode kemerdekaan ini tidak berumur panjang hingga awal abad ke-10. Ketika itu, kemerosokan dan kejatuhan Dinasti Tang yang kuat saat perpecahan berkepanjangan ‘Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan’ memberi ruang yang memadai bagi orang Vietnam untuk mendirikan dan mempertahankan Negara mereka sendiri. Pada tahap awal ini Negara Vietnam memang belum bersatu dan seperti akan kita lihat, kemungkinan tidak pernah menjadi satu entitas tunggal tapi Negara ini mampu menggagakan dua kali uapayaCina merebut merebut kembali daerah kekuasaannya. Kerajaan yang masih sangat muda ini pun kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Sealam decade-dekade akhir kekuasaan Tang terhadap apa yang kemudian dikenal sebagai ‘Protektorat Annam’, control Cina terhadap wilayah wilayah perbatasan Vietnam tinggal isapan jempol belaka. Para elite stempat pun mulai mengatur urusannya sendiri. Sekitar tahun 905-930 tiga orang pemimpin dari keluarga Khuc memegang jabatan gubernur dibawah kewenangan teoritis Tang yang sejatinya sudah tidak ada lagi. Dinasti Han selatan yang baru berdiri 930 menginvasi untuk merebut kembali wilayah ini, tetapi pasukannya segera dipukul mundur. Selama beberapa decade berikutnya, sejumlah pemimpin militer secara bergantian berkuasa diberbagai tempat berbeda di delta Sungai Merah. Pemimpin paling terkenal adalah Ngo Quyen yang menobatkan diri menjadi raja pada 939 usai memenangkan pertemuan laut fenomenal melawan Cina di Bach Dng. Pemimpin terkenal lainnya adalah Dinh Bo Linh yang bergelar ‘Kaisar Dai Co Viet’ pada 968. Beberapa tahun kemudian ia terbunuh dan salah satu jenderalnya, Le Hoan, menggantikan kedudukannya. Ia memerintah selama seperempat abad. Kematiannya disusul serangkaian perebutan kekuasaan antara anak-anaknya, pemenangnya memerintah selama empat tahun lalu meninggal dunia. Seorang pejabat istana bernama Ly Cong Uan dinobatkan sebagai kaisar dan ketrurunannya tetap bertakhta selama lebih dari dua abad.
Hura-hara sepanjang abad ke-10 terekam dalam sumber-sumber lawas Vietnam sebagai serangkaian dinasti berumur pendek yang pada akhirnya membuka jalan bagi Ly. Pada kenyataannya, para penguasa ini lebih terlihat sebagai orang kuat Asia Tenggara daripada Kaisar Cina. Mereka sepertinya mendapatkan kekuasaan melaui dukungan jaringan pengikut, kekerabatan dengan keluarga berpengaruh serta basis kekuatan ragional atau local. Mereka memerintah dari setidaknya ibu kota berbeda. Tidak satupun dari mereka yang  berhasil memastikan bahwa putranya diterima sebagai penerus tahta. Prosese membangun dan mengkonsolidasikan dinasti yang stabil adalah prosese yang lamabat dan secara keselruhan, sejarah Vietnam pada abad ke-10 mengikuti pola umum Asia Tenggara.
Meskipun demikian, dalam batas tertentu, kerajaan bergaya Asia Tenggara ini dijalankan dalam konteks kebudayaan Cina. Walaupun konfusianisme sepertinya bukan merupakan ideology yang kuat, bahkan dikalangan kelas penguasa sekalipun, agama Budha dan Taoisme terlihat sangat berpengaruh. Tidak adanya sitem pendidikan yang lengkap atau ujian gaya Cina secara berkala. Maka, para pendeta Budha dan dalam skala lebih kecil, pendeta Tao berperan sebagai elite intelektual.
Agama Budha orang Vietnam tidaklah monolitik. Elite Ly dan Tran menyukai aliran yang dikenal di Cina sebagai Chan dan Thein di Vietnam. Aliran yang dikenal di Barat dengan nama Jepangnya, Zen, menekankan ketaatan melauli meditasi dan teks-teks filosofis kebatinan. Para biksu Thein tercatat telah mempraktikan berbagai bentuk asketisme (mati raga), menantang para muridnya dengan pertanyaan yang kontradiktif dan sulit dipahami, bahkan melalui keajaiban dan tindakan ajaib melaui kekuatan spiritual mereka yang unggul. Namun, pada tingkat akar rumput, orang Vietnam diyakini mengikuti bentuk agama Budha yang lebih sederhana yang didasarkan para berbuat baik, merapalkan do’a-do’a dan berulang kali menyebut nama Budha. Praktik-praktik agama Budha inilah yang paling dekat dengan Aliran Tanah Suci yang berawal dari Cina, yang bertahan dalam kebudayaan Vietnam dalam waktu lama. Sementara, keterkaitan elite terhadap Thien sepertinya hanya spesifik untuk periode ini.
Dibenak orang Vietnam, Dinasti Ly dan Tran sering dikaitkan. Bukan karena hanya sama-sama memiliki kebudayaan Budha tetapi juga karena terdapat keberlanjutan yang cukup besar antaranya keduanya dalam konteks evolusi Vietnam sebagai kerajaan. Selama abad-abad sebelum pendudukan Ming, Dai Viet demikian kerajaan ini dikenal selama hamper sepanjang periode ini secara bertahap membangun sebuah kerangka kerja institusional dan struktur administrative ysng didasarkan pada model Cina. Namun, ini adalah proses yang lambat. Pemerintahan pada kedua Dinasti ini tidak terlalu kompleks, tidak terlalu birokratis dan relative lebih daripada pemerintahan sejak abad ke-15.
Sepertinya sudah jelas bahwa desa-desa Vietnam bersama keluarga sudah menjadi struktur sosial dominan selama periode ini. Sayangnya, informasi seputar kehdupan mereka relative sedikit. Sumber utama informasi ini adalah kronik yang ditulis dari persepektif istana dan jarang menceritakan daerah pedesaan kecuali ketika muncul masalah. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk menanam padi, membuat kerajinan atau prakarya dalam bentuk tertentu. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kepemilikan tanah disini meliputi tanah pribadi dan komunal sebuah system ganda yang akan bertahan melewati sebuah periode colonial perancis tetapi tidak ada data spesifik tentang kesimbangan antara keduanya pada tingkat desa. Pemberontakan petani yang terjadi secara period, para  menunjukkan bahwa erdapat ketegangan dan kemungkinan eksploitasi diperdesaan, pesoalan itu semakin parah bila disertai musim kekeringan, banjir dan epidemic, dimana salah satu factor ini dapat memicu kekacauan. Pemerintah yang bijaksan  akan mengurangi atau bahkan tidak menarik pajak ketika situasi sedang buruk. Namun para penguasa tidak selalu bijak dan para pejabat local memiliki banyak kesempatan untuk memeras lebih banyak keuntungan dari penduduk yang ada dibawah kewenangannya.
Inti geografis dari Viet hamper sepanjang periode ini tetap berada didaerah yang sebelumnya ada dibawah kendali cina, kurang lebih sama dengan di daerah utara dan utara tengah Vietnam modern. Kerajaannya sendiri berupa daerah-daerah dataran rendah dan dataran menengah yang dihuni orang-orang Vietnam.
Sejak masa kemerdakaan hubungan Vietnam dengan Cham diselatan selalu dihiasi dengan konflik. Pada sebagian besar periode ini, kedua bangsa memiliki kekuatan yang kurang lebih sama. Orang Vietnam sepertinya telah melakukan kontak dengan lebih dari suatu kerajaan Cham kendati tidak mudah untuk memilahnya dari kronik-kronik yang ada. Abad-abad awal kemerdekaan ini menjadi periode pertumbuhan Kerajaan Vietnam. Dasar pemrintahan imperium bergaya Cina telah diletakkan kemudian berkembang seiring berjalannya waaktu. Dai Viet membangun hubungan diplomatic dan kadang kala terlibat konflik militer dengan beberapa tetanggtanya.
Vietnam (Kelompok etnis, struktur sosial dan Budaya kuno)
            Daerah-daerah tinggi di Vietnam timurlaut pada dasarnya adalah bagian dari negeri Tai dengan dua kelompok utamanya, Tai Hitam dan Putih. Mereka membudidayakan padi dilahan basah, di lembah-lembah daratan tinggi dan tetap mempertahankan kepercayaan animism Tai tradisional dengan tidak memeluk agama Budha, baik yang sudah beredar di Vietnam maupun maupun alioran Theravada. Sebaliknya,  ikatan politik dan buadaya etnis Tay dan Nung di Vietnam Utara lebih mirip dengan etnis Vietnam.
            Walaupun rakyat Vietnam menggunakan bahasa Mon-Kher tersebar di tempat-tempat berbeda di dataran tinggi Vietnam. Keberadaan mereka didaerah baratlaut terbilang sedikit. Mereka turun temurun menjadi jajahan Thai Putih dan Hitam yang lebih kuat, yang para penguasa lokalnya berkuasa di sebagian besar daerah tersebut. Jumlah kelompok penutur Mon-Kher jauh lebih banyak di daerah dataran tinggi Vietnam tengah, baik bagian barat provinsi-provinsi pantai maupun di wilayah yang dikenal sebagai Dataran Tinggi Tengah (Tay Nguyen) yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja. Ukuran kelompok-kelompok ini berbeda-beda, dari etnis Muong dan Ba-na (Bahnar) yang lebih besar hingga populasi lebih kecil hanya berjumlah beberapa ratus orang. Etnis Muong menjadi pehatian khusus karena mereka adalah saudara terdekat etnis Vietnam. Mungkin saja kedua etnis ini adalah suatu bangsa yang kemudian terpisah sebagian memilih bermigrasi kedaratan rendah.
            Daratan tinggi tengah juga menjadi rumah bagi beberapa kelompok besar penutur Austronesia yang leluhurnya datang menyebrangi laut, kemudian bermigarasi lebih jauh kedaerah daratan rendah maupun naik kedaerah daratan tinggi. Kelmpok etnis paling terkenal adalah E-de (Radhe) dan Gia-rai atau Jarai. Mereka mempertahankan hubungan erat dengan etnis Cham dataran rendah yang pernah menguasai seluruh pesisir tengah. Sayangnya, wilayah etnis Cham kini hanya terbatas disebuah daerah lebih kecil di pesisir tersebut dan daerah lain disisi perbatasan Kamboja. Sebagai sesame penutur Austronesia, etnis Cham jauh lebih besar terpapar kebudayaan india dan islam dikemudian hari. Mereka akan dibahas kembali pada bab-bab selanjutnya karena merupakan tetangga penting seringkali musuh etnis Vietnam.
            Terakhir, mengenai etnis minoritas Khmer (Kamboja) didelta Mekong. Wilayah yang paling selatan Vietnam ini pertama kali dijajah etnis Vietnam pada abad ke-17. Walaupun mereka hidup berdampingan dan melakukan perkawinan antar etnis, populasi Khmer tidak pernah terkontaminasi. Mereka mempertahankan bahasanya sendiri dan agama Budha Theravada yang berbeda dengan Budha Mahayana yang dipraktikan etnis Vietnam. Keberadaan mereka merupakan salahsatu factor ynag menjadi wilayah dengan budaya yang elektik, sangat berbeda dengan daerah dataran rendah maupun dengan dataran tinggi yang lebih jauh diutara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar