Vietnam (Negara-negara klasik pada puncak kejayaannya)
Sejarah Vietnam
merdeka di rentang waktu akhir kekuasaan Cina abad ke-10 dengan kolonisasi
Prancis pada abad ke-19 terbagi dua akibat 20 tahun pendudukan Ming pada awal
1400-an. Dalam bab ini, kita akan melihat bagian pertama sejarah yang berakhir
dengan invasi Ming. Periode pertama kemerdekaan dapat dibagi menjadi tiga:
Pertama, abad
ke-10, ketika Vietnam diperintah para penguasa yang berasal dari keluarga dan daerah berbeda.
Kedua, Dinasti
Ly (1900-1225), dinasti kekaisaran pertama Negara ini yang stabil dan tahan
lama.
Ketiga, Dinati Tran (1225-1400) yang kejatuhannya mengakibatkan terjadinya
pendudukan Ming. Kendati dalam periode lima pada abad initidak banyak dilakukan
ekspansi wilayah, periode ini diwarnai konsolidasi politik dan budaya, serta
menjadikan Kerajaan Vietnam sebagai pemain penting yang permanen di kawasan
ini.
Seperti disebutkan dalam Bab 2,
millennium kekuasaan Cina atas Vietnam Utara menjadi saksi periode-periode
perlawanan dan pemberontakan orang Vietnam yang mampu mengambil keuntungan dari
masa-masa ketidakstabilan politik dalam Kekaisaran Tengah yang melemahkan
pengawasannya terhadap wilayah perbatasan. Episode-episode kemerdekaan ini
tidak berumur panjang hingga awal abad ke-10. Ketika itu, kemerosokan dan
kejatuhan Dinasti Tang yang kuat saat perpecahan berkepanjangan ‘Lima Dinasti
dan Sepuluh Kerajaan’ memberi ruang yang memadai bagi orang Vietnam untuk
mendirikan dan mempertahankan Negara mereka sendiri. Pada tahap awal ini Negara
Vietnam memang belum bersatu dan seperti akan kita lihat, kemungkinan tidak
pernah menjadi satu entitas tunggal tapi Negara ini mampu menggagakan dua kali
uapayaCina merebut merebut kembali daerah kekuasaannya. Kerajaan yang masih
sangat muda ini pun kehilangan kesempatan untuk berkembang.
Sealam decade-dekade akhir kekuasaan
Tang terhadap apa yang kemudian dikenal sebagai ‘Protektorat Annam’, control
Cina terhadap wilayah wilayah perbatasan Vietnam tinggal isapan jempol belaka.
Para elite stempat pun mulai mengatur urusannya sendiri. Sekitar tahun 905-930
tiga orang pemimpin dari keluarga Khuc memegang jabatan gubernur dibawah
kewenangan teoritis Tang yang sejatinya sudah tidak ada lagi. Dinasti Han
selatan yang baru berdiri 930 menginvasi untuk merebut kembali wilayah ini,
tetapi pasukannya segera dipukul mundur. Selama beberapa decade berikutnya,
sejumlah pemimpin militer secara bergantian berkuasa diberbagai tempat berbeda
di delta Sungai Merah. Pemimpin paling terkenal adalah Ngo Quyen yang menobatkan
diri menjadi raja pada 939 usai memenangkan pertemuan laut fenomenal melawan
Cina di Bach Dng. Pemimpin terkenal lainnya adalah Dinh Bo Linh yang bergelar
‘Kaisar Dai Co Viet’ pada 968. Beberapa tahun kemudian ia terbunuh dan salah
satu jenderalnya, Le Hoan, menggantikan kedudukannya. Ia memerintah selama
seperempat abad. Kematiannya disusul serangkaian perebutan kekuasaan antara
anak-anaknya, pemenangnya memerintah selama empat tahun lalu meninggal dunia.
Seorang pejabat istana bernama Ly Cong Uan dinobatkan sebagai kaisar dan
ketrurunannya tetap bertakhta selama lebih dari dua abad.
Hura-hara sepanjang abad ke-10
terekam dalam sumber-sumber lawas Vietnam sebagai serangkaian dinasti berumur
pendek yang pada akhirnya membuka jalan bagi Ly. Pada kenyataannya, para
penguasa ini lebih terlihat sebagai orang kuat Asia Tenggara daripada Kaisar
Cina. Mereka sepertinya mendapatkan kekuasaan melaui dukungan jaringan
pengikut, kekerabatan dengan keluarga berpengaruh serta basis kekuatan ragional
atau local. Mereka memerintah dari setidaknya ibu kota berbeda. Tidak satupun
dari mereka yang berhasil memastikan
bahwa putranya diterima sebagai penerus tahta. Prosese membangun dan
mengkonsolidasikan dinasti yang stabil adalah prosese yang lamabat dan secara
keselruhan, sejarah Vietnam pada abad ke-10 mengikuti pola umum Asia Tenggara.
Meskipun demikian, dalam batas
tertentu, kerajaan bergaya Asia Tenggara ini dijalankan dalam konteks
kebudayaan Cina. Walaupun konfusianisme sepertinya bukan merupakan ideology
yang kuat, bahkan dikalangan kelas penguasa sekalipun, agama Budha dan Taoisme
terlihat sangat berpengaruh. Tidak adanya sitem pendidikan yang lengkap atau
ujian gaya Cina secara berkala. Maka, para pendeta Budha dan dalam skala lebih
kecil, pendeta Tao berperan sebagai elite intelektual.
Agama Budha orang Vietnam tidaklah
monolitik. Elite Ly dan Tran menyukai aliran yang dikenal di Cina sebagai Chan
dan Thein di Vietnam. Aliran yang dikenal di Barat dengan nama Jepangnya, Zen,
menekankan ketaatan melauli meditasi dan teks-teks filosofis kebatinan. Para
biksu Thein tercatat telah mempraktikan berbagai bentuk asketisme (mati raga),
menantang para muridnya dengan pertanyaan yang kontradiktif dan sulit dipahami,
bahkan melalui keajaiban dan tindakan ajaib melaui kekuatan spiritual mereka
yang unggul. Namun, pada tingkat akar rumput, orang Vietnam diyakini mengikuti
bentuk agama Budha yang lebih sederhana yang didasarkan para berbuat baik,
merapalkan do’a-do’a dan berulang kali menyebut nama Budha. Praktik-praktik
agama Budha inilah yang paling dekat dengan Aliran Tanah Suci yang berawal dari
Cina, yang bertahan dalam kebudayaan Vietnam dalam waktu lama. Sementara,
keterkaitan elite terhadap Thien sepertinya hanya spesifik untuk periode ini.
Dibenak orang Vietnam, Dinasti Ly
dan Tran sering dikaitkan. Bukan karena hanya sama-sama memiliki kebudayaan
Budha tetapi juga karena terdapat keberlanjutan yang cukup besar antaranya
keduanya dalam konteks evolusi Vietnam sebagai kerajaan. Selama abad-abad
sebelum pendudukan Ming, Dai Viet demikian kerajaan ini dikenal selama hamper
sepanjang periode ini secara bertahap membangun sebuah kerangka kerja
institusional dan struktur administrative ysng didasarkan pada model Cina.
Namun, ini adalah proses yang lambat. Pemerintahan pada kedua Dinasti ini tidak
terlalu kompleks, tidak terlalu birokratis dan relative lebih daripada
pemerintahan sejak abad ke-15.
Sepertinya sudah jelas bahwa
desa-desa Vietnam bersama keluarga sudah menjadi struktur sosial dominan selama
periode ini. Sayangnya, informasi seputar kehdupan mereka relative sedikit.
Sumber utama informasi ini adalah kronik yang ditulis dari persepektif istana
dan jarang menceritakan daerah pedesaan kecuali ketika muncul masalah. Dapat
disimpulkan bahwa mayoritas penduduk menanam padi, membuat kerajinan atau
prakarya dalam bentuk tertentu. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kepemilikan tanah
disini meliputi tanah pribadi dan komunal sebuah system ganda yang akan
bertahan melewati sebuah periode colonial perancis tetapi tidak ada data spesifik
tentang kesimbangan antara keduanya pada tingkat desa. Pemberontakan petani
yang terjadi secara period, para
menunjukkan bahwa erdapat ketegangan dan kemungkinan eksploitasi
diperdesaan, pesoalan itu semakin parah bila disertai musim kekeringan, banjir dan
epidemic, dimana salah satu factor ini dapat memicu kekacauan. Pemerintah yang
bijaksan akan mengurangi atau bahkan
tidak menarik pajak ketika situasi sedang buruk. Namun para penguasa tidak
selalu bijak dan para pejabat local memiliki banyak kesempatan untuk memeras
lebih banyak keuntungan dari penduduk yang ada dibawah kewenangannya.
Inti geografis dari Viet hamper
sepanjang periode ini tetap berada didaerah yang sebelumnya ada dibawah kendali
cina, kurang lebih sama dengan di daerah utara dan utara tengah Vietnam modern.
Kerajaannya sendiri berupa daerah-daerah dataran rendah dan dataran menengah
yang dihuni orang-orang Vietnam.
Sejak masa kemerdakaan hubungan
Vietnam dengan Cham diselatan selalu dihiasi dengan konflik. Pada sebagian
besar periode ini, kedua bangsa memiliki kekuatan yang kurang lebih sama. Orang
Vietnam sepertinya telah melakukan kontak dengan lebih dari suatu kerajaan Cham
kendati tidak mudah untuk memilahnya dari kronik-kronik yang ada. Abad-abad
awal kemerdekaan ini menjadi periode pertumbuhan Kerajaan Vietnam. Dasar
pemrintahan imperium bergaya Cina telah diletakkan kemudian berkembang seiring
berjalannya waaktu. Dai Viet membangun hubungan diplomatic dan kadang kala
terlibat konflik militer dengan beberapa tetanggtanya.
Vietnam (Kelompok etnis, struktur sosial dan Budaya kuno)
Daerah-daerah
tinggi di Vietnam timurlaut pada dasarnya adalah bagian dari negeri Tai dengan
dua kelompok utamanya, Tai Hitam dan Putih. Mereka membudidayakan padi dilahan
basah, di lembah-lembah daratan tinggi dan tetap mempertahankan kepercayaan
animism Tai tradisional dengan tidak memeluk agama Budha, baik yang sudah
beredar di Vietnam maupun maupun alioran Theravada. Sebaliknya, ikatan politik dan buadaya etnis Tay dan Nung
di Vietnam Utara lebih mirip dengan etnis Vietnam.
Walaupun rakyat
Vietnam menggunakan bahasa Mon-Kher tersebar di tempat-tempat berbeda di
dataran tinggi Vietnam. Keberadaan mereka didaerah baratlaut terbilang sedikit.
Mereka turun temurun menjadi jajahan Thai Putih dan Hitam yang lebih kuat, yang
para penguasa lokalnya berkuasa di sebagian besar daerah tersebut. Jumlah
kelompok penutur Mon-Kher jauh lebih banyak di daerah dataran tinggi Vietnam
tengah, baik bagian barat provinsi-provinsi pantai maupun di wilayah yang dikenal
sebagai Dataran Tinggi Tengah (Tay Nguyen) yang berbatasan dengan Laos dan
Kamboja. Ukuran kelompok-kelompok ini berbeda-beda, dari etnis Muong dan Ba-na
(Bahnar) yang lebih besar hingga populasi lebih kecil hanya berjumlah beberapa
ratus orang. Etnis Muong menjadi pehatian khusus karena mereka adalah saudara
terdekat etnis Vietnam. Mungkin saja kedua etnis ini adalah suatu bangsa yang
kemudian terpisah sebagian memilih bermigrasi kedaratan rendah.
Daratan tinggi
tengah juga menjadi rumah bagi beberapa kelompok besar penutur Austronesia yang
leluhurnya datang menyebrangi laut, kemudian bermigarasi lebih jauh kedaerah
daratan rendah maupun naik kedaerah daratan tinggi. Kelmpok etnis paling
terkenal adalah E-de (Radhe) dan Gia-rai atau Jarai. Mereka mempertahankan
hubungan erat dengan etnis Cham dataran rendah yang pernah menguasai seluruh
pesisir tengah. Sayangnya, wilayah etnis Cham kini hanya terbatas disebuah
daerah lebih kecil di pesisir tersebut dan daerah lain disisi perbatasan
Kamboja. Sebagai sesame penutur Austronesia, etnis Cham jauh lebih besar
terpapar kebudayaan india dan islam dikemudian hari. Mereka akan dibahas
kembali pada bab-bab selanjutnya karena merupakan tetangga penting seringkali
musuh etnis Vietnam.
Terakhir, mengenai
etnis minoritas Khmer (Kamboja) didelta Mekong. Wilayah yang paling selatan
Vietnam ini pertama kali dijajah etnis Vietnam pada abad ke-17. Walaupun mereka
hidup berdampingan dan melakukan perkawinan antar etnis, populasi Khmer tidak
pernah terkontaminasi. Mereka mempertahankan bahasanya sendiri dan agama Budha
Theravada yang berbeda dengan Budha Mahayana yang dipraktikan etnis Vietnam.
Keberadaan mereka merupakan salahsatu factor ynag menjadi wilayah dengan budaya
yang elektik, sangat berbeda dengan daerah dataran rendah maupun dengan dataran
tinggi yang lebih jauh diutara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar