Hubungan Perkembangan Paham-paham Besar di Eropa dengan Kesadaran Kebangsaan Indonesia
2.1 Latar Belakang Lahirnya dan Perkembangan Paham-Paham Besar di
Eropa
Di Eropa muncul paham-paham baru
sebagai akibat dari terjadinya Revolusi Industri dan Revolusi Prancis.
Paham-paham itu, antara lain nasioanalisme, liberalisme, sosialisme. Paham atau
sama dengan ideologi. Ideologi atau paham itu sendiri adalah sebuah sistem atau
gagasan yang secara normatik memberikan persepsi, landasan, dan pedoman tingkah
laku seorang atau masyarakat dalam kehidupan bermasyarat, berbangsa dan
bernegara guna mencapai tujuan yang di cita-citakan. Ideologi atau paham
sebagai belive system (sistem kepercayaan) mengandung unsur kepentingan,
tujuan, dan cita-cita.
Urayan tentang muncul dan
berkembangnya paham-paham di Eropa
diantaranya sebagai berikut :
1.
Paham
Nasionalisme
Nasionalisme berasal dari kata
nasional atau nation (bahasa Inggris) atau natie (bahasa Belanda) yang artinya
bangsa. Nasional artinya kebangsaan. Bangsa adalah sekelompok manusia yang diam
di wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemauan untuk bersatu, karena
adanya persamaan nasib, cita-cita dan tujuan.
Nasionalisme dapat diartikan
semangat kebangsaan, yaitu semangat cinta kepada bangsa dan negara. Suatu paham
yang menyadarkan harga diri suatu kelompok masyarakat sebagai suatu bangsa.
Sebab lahirnya nasionalisme adalah
penaklukan negara bangsa lain oleh negara tertentu yang mengakibatkan
kesengsaraan bagi masyarakat negara bangsa yang ditaklukan. Oleh sebab itu,
nasionalisme sering diasosiasikan sebagai ekspansinisme, imperialisme, dan
peperangan.
Timbulnya nasionalisme karena
kombinasi dua factor yaitu factor subjektif dan objektif. Faktor subjektif
berupa kemauan, sentiment, aspirasi, dll. Suhungan dengan hal itu ada beberapa
batasan pengertian tentang Nasionalisme:
1)
Laporan
dari Royal Insituti of Internal mengatakan bahwa:
”a consciousness, on the part of individuals or groups, of
membership in a nation, whether one’s or another”
2)
Hans
Kohn, lebih cenderung mendifinisikan nasonalisme pada sentiment nasional, ia
mengatakan bahwa:
“a state of mind, meating the large majority of a people, and
claming to permeate all its members; its recognizes the nation state as the
ideal form of political organization and the nationality as the source of all
creative cultural energy and economic well being. The supreme loyality of man
is therefore to his nationality, as his own life is supposedly rooted in and
made possible by its welfare”
3)
Renan
menekankan Nasionalisme pada:
“Le sentiment de sacrifices” dan “le consentiment, le desir
clairement exprime de continu la vie commune” (Smith, 1983: 174)
Beberapa teori tentang bangsa yang
disebut di atas cocok bagi Indonesia adalah teori bedasarkan keinginan (wils).
Semangat kebangsaan yang merupakan “psychological state of mind” harus selalu dibangkitkan dan dihidupkan.
Karena itulah Nasionalisme Indonesia, seperti nasionalisme Negara-negara Asia Tenggara
lainnya mempunyai basis historis pada kolonialisme dengan politiknya dan
nasionalisme merupakan collective conscience untuk menghadapi kondisi
sosio-politik yang buruk, yaitu dengan jalan mengdakan reaksi sesuai dengan
kedudukan kelompok itu.
2.
Paham
Liberalisme
Liberalisme adalah suatu faham yang
mengutamakan kemerdekaan individu sebagai pangkal dan pokok dari kebaikan
hidup. Menurut paham ini paham ini masyarakat harus mengutamakan individu,
karena masyarakat terdiri atas individu dan terbentuk sebagai akibat adanya
individu. Oleh karena itu yang terpenting adalah hidup ini individu.
Mula-mula paham ini berkembang di
Eropa dengan kaum borjuis atau warga kota sebagai pendukungnya. Mereka berasal
dari berbagai daerah atau bangsa, karena itu tidak memiliki ikatan kekeluargaan
dan adat kebiasaan. Kehidupan masyarakat kota yang bebas dank eras makin
mendorong mereka hanya memikirkan keperluan sendiri dan bersaing satu sama
lain. Peranan kaum borjuis ini semakin penting setelah dan perdagangan menjadi
mata pencaharian yang penting.
Pada hakekatnya paham liberal timbul
sebagai reaksi terhadap penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan kaum
agama di zaman absolute monarki, dimana setiap orang harus tunduk kepada
kekuasaan bangsawan dan agama. Dengan adanya kekangan tersebut orang-orang
ingin melepaskan diri dan memperjuangkan kemerdekaan individu. Usaha untuk
memperjuangkan kebebasan ini terjadi di beberapa Negara.
Perjuangan paham liberal terutama
dalam bidang politik meletus pula dalam peristiwa besar yang kita kenal dngan
istilah Revolsi Perancis. Peristiwa ini merupakan bukti kemenangan kaum liberal
dalam memperjuangkan kebebasannya. Hal ini disamping Nampak dalam semboyan,
yaitu “Liberte, Egalite, Fraternite”, juga Nampak dalam pernyataan hak-hak
manusia yang diumumkan pada tanggal 27 Agustus 1789 dengan nama “Declaration
des droits de I’ home et du citoyen” (pernyataan hak-hak manusia dan warga
negara).
Deklarasi ini antara lain memuat:
1)
Persamaaan
hak dalam lapangan politik dan sosial bagi setiap warga Negara;
2)
Penghormatan
akan hak milik;
3)
Kedaulatan
bangsa Negara yang bersumber pada rakyat;
4)
Kebebasan
bertindak asal tidak merugikan oang lain;
5)
Kemerdekaan
berbicara dan pers;
6)
Pembagian
pajak yang sama yang ditetapkan oleh wakil-wakil rakyat secara bebas;
7)
Penghormatan
akan pendirian, kepercayaan dan agama.
Hak-hak manusia dan warga Negara ini
merupakan salah satu dasar bagi tumbuhnya nasionalisme di Eropa. Dengan adanya
hak-hak manusia dan warga Negara, maka hapuslah hak-hak istimewa yang dimiliki
oleh raja, golongan bangsawan dan gereja. Dalam revolusi ini tampil golongan
baru yaitu golongan III yang terdiri dari kaum pedagang, pengusaha, dan
orang-orang terkemuka dalam masyarakat.
3.
Paham
Sosialisme
Sosialisme sebagai suatu paham
(gerakan) yang menghendaki suatu masyarakat disusun secara kolektif dengan
tujuan mencapai masyarakat yang bahagia. Jadi paham ini titik beratnya pada
masyarakat, bukan pada individu.
Tokoh pemikir sosialisme adalah
Robert Owen, seorang pengusaha Inggris yang menulis buku A New of Society an Essay on the Formation of
Human Character. Ia adalah orang yang pertama menggunakan istilah sosialisme.
Seorang yang dikenal sebagai Bapak
Sosialisme adalah Karl Marx dalam tulisannya Das Kapital yang mengatakan bahwa
sejarah masyarakat merupakan perjuangan-perjuangan kelas, semboyan mereka
"bersatulah kaum proletar sedunia." Titik berat dari paham ini adalah
pada masyarakat bukan individu, dan dalam hal ini sosialisme merupakan lawan
dari liberalisme.
Pada awalnya sosialisme muncul
sebagai reaksi atas liberalisme abad ke-19. Pendukung liberalisme adalah kelas
menengah (middle class), yang oleh Karl Marx disebut kaum “borjuis”. Kelas
menengah ini adalah memiliki industri, perdagangan dan memiliki pengaruh dalam
masyarakat dan pemerintah. Ketertindasan kaum buruh oleh para pemilik modal
(kapital) menimbulkan reaksi golongan kelas menengah, yang sampai sekarang
dikenal dengan istilah gerakan sosialisme. Tujuannya menghilangkan pertentangan
antar kelas, kelas buruh dan pemodal.
Ajaran Karl Marx yang kemudian
dikenal dengan Marxisme atau Komunisme. Sosialisme merupakan tahap awal dari
komunisme, suatu tahap pada masa yang akan datang atau kemudian menjadi
komunisme penuh (full communism). Komunisme inilah yang bertumpu pada ajaran
Marxisme.
2.2
Latar
Belakang Paham - Paham Besar di Eropa Masuk ke Indonesia
Hal yang
melatar belakangi paham-paham Eropa dapat masuk di Indonesia adalah yaitu:
1. Peranan Pendidikan
Latar belakang masuknya paham-paham
besar dari Eropa ke Indonesia yaitu adanya Perkembangan Pendidikan di
Indonesia. Dimana perkembangan pendidikan membawa penduduk pribumi Indonesia
dapat perluasan pengatahuan tentang dunia luar yang belum mereka ketahui
sebelumnya.
Perkembangan pendidikan di Indonesia
terjadi sejak adanya Politik Etis, yang timbul akibat sehubungan dengan adanya
tragedi kemiskinan rakyat Indonesia pada abad ke-19 yang kemudian memunculkan
kritikan tajam yang diancarkan oleh orang-orang Belanda yang berbudi tinggi.
Mereka meminta pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan progam Politik Etis.
Hal ini perlu dilaksanan di tanah jajahan dalam rangka membalas budi kebaikan
rakyatnya. Caranya dengan membantu meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan
rakyat jajahan. Progam peningkatan kesejahteraan dan balas budi tersebut disebut
Trias Politika yang meliputi bidang irigas, emigrasi dan edukasi.
Di bidang edukasi atau pendidikan
diberikan untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Pendirian-pendirian
sekolah dilaksanakan masih dengan setengah hati oleh pemerintah Belanda, yang
hanya bertujuan untuk kepentingan Belanda dan kelancaran pernjajahan di
Indonesia saja. Semua kegiatan di bidang pendidikan di awasi dan di kontrol
oleh pemerintah Belanda.
2.
Peranan Pers Indonesia
Pada abad
ke-19, pers masuk ke wilayah Indonesia dan sangat besar pengaruhnya terhadap
perkembangan kota-kota di Indonesia. Wujud perkembangan pers itu dalam bentuk
surat kabar ataupun majalah. Munculnya surat kabar dimodali oleh orang-orang
Cina dengan menggunakan bahasa Melayu. Derngan demikian, surat kabar yang
diterbitkan secara tidak langsung ikut serta di dalam mempopulerkan penggunaan
bahasa Melayu. Surat kabar juga memuat isu-isu politik yang sedang berkembang,
sehingga secara tidak langsung telah banyak memberikan pendidikan politik pada
masyarakat Indonesia. Surat kabar berbahasa Melayu berkembang sejak awal abad
ke-20, antara lain sebagai berikut.
a.
Sumatra: Sinar Soematra, Tjahaja Soematra, Pemberita
Atjeh, Pertja Barat.
b.
Jawa: Bromantani, Pewarta Soerabaja, Kabar Perniagaan,
Pemberitaan Betawi, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Hampaet, Melayu,
Poetera Hindia.
c.
Kalimantan: Pewarta Borneo.
d.
Sulawesi: Pewarta Manado.
Pers mempunyai kekuatan untuk membangkitkan
kesadaran bersama mengenai kepentingan umum, seperti keamanan, kesejahteraan,
kemasyarakatan, dan ketatanegaraan. Pers mempunyai peranan penting dalam
menjalankan pendidikan politik bagi kaum bumiputra. Malalui pers, apa yang
terjadi dipanggung politik dunia mulai dipentaskan kepada umum di Indonesia.
Berita-berita luar negeri menambah pengetahuan dan kesadaran politik para
pembacanya. Hal ini akan membangkitkan kecenderungan untuk membandingkan
situasi politik luar negeri dengan dalam negeri. Pada akhirnya muncul pemikiran
dan pemandangan kritis terhadap lingkungan politik dalam segala hal masih didominasi
oleh penguasa kolonial.
Peran media :
a) Melalui surat kabar terdapat pendidikan
politik, sebab melalui surat kabar tersebut ternyata dimuat isu-isu mengenai
masalah politik yang sedang berkembang sehingga secara tidak langsung melalui
surat kabar tersebut telah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat
Indonesia.
b) Melalui Surat kabar atau majalah mempunyai
fungsi sosial dasar yaitu memperluas pengetahuan bagi para pembacanya dan dapat
membentuk pendapat (opini) umum.
c) Pendidikan sosial politik dapat disalurkan
melalui tulisan-tulisan di surat kabar dan media masa sehingga menumbuhkan
pemikiran dan pandangan kritis pembaca yang dapat membangkitkan kesadaran
bersama bagi bangsa Indonesia.
d) Surat kabar merupakan media komunikasi
cetak yang paling potensial untuk memuat berita, wawasan dan polemik (tukar
pikiran melalui surat kabar), bahkan ide dan pemikiran secara struktural dapat
dikomunikasikan kepada masyarakat luas.
e) Meskipun pada masa itu ruang gerak pers
dibatasi dan dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial. Tetapi melalui surat
kabar tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan segala sesuatu yang
dikehendaki dan diprogramkan oleh pemerintah sehingga sedapat mungkin bisa
diinformasikan kepada masyarakat luar. Dimana pemberitahuannya lebih memihak
pada pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Surat kabar
mempunyai fungsi sosial dasar, yaitu memperluas pengetahuan bagi para
pembacanya dan dapat membentuk opini umum. Akan tetapi, ruang gerak
persuratkabaran pada zaman kolonial Belanda dibatasi dan dikontrol ketat.
Selain surat kabar yang membawa suara nasionalisme, terbit surat kabar yang
merupakan pembawa suara pemerintah kolonial Hindia Belanda, seperti Pantjaran Warta dan Bentara Hindia di
Jakarta, Sinar Matahari di Makassar, dan Medan Priyayi di Bandung.
Pada masa
pergerakan nasional, pers (surat kabar dan majalah) merupakan media informasi
dan komunikasi yang sangat penting dan efektif. Pada mulanya, surat kabar dan
majalah digunakan oleh orang-orang Belanda dan Cina. Tujuan penerbitannya pun
terbatas untuk kepentingan mereka. Waktu itu kebebasan pers dibatasi oleh
pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Sekalipun demikian, di kalangan pers
Melayu-Cina sudah mulai ada berita-berita yang bersifat politik. Cita-cita
pergerakan nasional Cina diawali oleh Dr. Sun Yat Sen, misalnya telah banyak
diketahui golongan terpelajar Indonesia.
Surat kabar
berbahasa Melayu yang terbit di Sumatera, di antaranya Sinar Soematra, Tjahaya
Soematra, Pemberita Atjeh, dan Pertja Barat. Surat kabar yang terbit di Pulau
Jawa, antara lain Bromantani, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa,
Terompet Melajoe, dan Putra Hindia. Surat kabar yang terbit di Kalimantan yaitu
Pewerta Menado. Timbulnya kesadaran dan identitas kebangasan Indonesia ditandai
oleh didirikannya organisasi kebangsaan, seperti Budi Utomo, Sarikat Islam,
Indische Partij, PNI, dan sebagainya. Organisasi- organisasi kebangsaan
masing-masing memiliki surat kabar sendiri. Kaum terpelajar dan majalah telah
mendidik dan menyadarkan semangat kebangsaan Indonesia. Organisasi-organisasi
kebangsaan yang memiliki surat kabar antara lain:
a. Budi Utomo menerbitkan surat kabar Darmo
Kando.
b. Sarikat Islam menerbitkan surat kabar
Oetoesan Hindia.
c. Perhimpulan Indonesia menebitkan surat
kabar Indonesia Merdeka.
d. Indische Partij menerbitkan surat kabar Het
Tijschrift dan de Expres.
Melalui
media pers tokoh-tokoh kaum pergerakan nasional dapat saling berkomunikasi,
aspirasi rakyat Indonesia terus bergelora. Jelaskan peranan dan kontribusi pers
pada masa pergerakan nasional sangat menentukan bagi terbentuknya identitas
kebangsaan Indonesia. Pada waktu itu, pers telah tampil sebagai alat perjuangan
dalam merintis kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia
Untuk
mengimbangi peredaran surat kabar dan majalah, kaum pergerakan nasional,
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda kemudian mendirikan badan penerbitan yang
diberi nama Balai Pustaka. Diterbitkanlah buku-buku yang bersifat netral untuk
mebelokkan perhatian rakyat Indonesia agartidak menyenangi artikel-artikel yang
ditulis kaum pergerakan. Sekalipun demikian tokoh-tokoh kaum pergerakan tetap
aktif menyuarakan perjuangan kemerdekaan. Melalui tulisan-tulisan mereka itulah
kebangsaan tumbuh di kalangan rakyat Indonesia melalui pers bangsa Indonesia
dididik berpolitik dan dibangkitkan semangat kebangsaannya. Pada waktu itu,
surat kabar dan majalah merupakan media pendidikan. Itulah sebabnya pers pada
masa pergerakan nasional disebut pers perjuangan.
2.3
Pengaruh
Paham-Paham Eropa di Indonesia
Pengaruh paham-paham besar terhadap
kesadaran kebangsaan Indonesia. Dengan adanya paham -paham tersebut mendorong
rakyat indonesia sadar akan perasaan kebangasaan. Kemudian hal tersebut di
implementasikan dalam pembentukan organisasi-organisasi pergerakan-pergerakan
nasional untuk melawan penjajah.
Pengaruh paham nasionalisme di
Indonesia ditandai dengan muncul berbagai gerakan nasioanal di Indonesia yang
bertujuan untuk mencapai kemerdekaan
Tahapan
perkembangan nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Periode Awal Perkembangan
Dalam
periode ini gerakan nasionalisme diwarnai dengan perjuangan untuk memperbaiki
situasi sosial dan budaya. Organisasi yang muncul pada periode ini adalah Budi
Utomo, Sarekat Dagang Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah.
2. Periode Nasionalisme Politik
Periode ini,
gerakan nasionalisme di Indonesia mulai bergerak dalam bidang politik untuk
mencapai kemerdekaan Indonesia. Organisasi yang muncul pada periode ini adalah
Indische Partij dan Gerakan Pemuda.
3. Periode Radikal
Dalam
periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia ditujukan untuk mencapai
kemerdekaan baik itu secara kooperatif maupun non kooperatif (tidak mau
bekerjasama dengan penjajah). Organisasi yang bergerak secara non kooperatif,
seperti Perhimpunan Indonesia, PKI, PNI.
4. Periode Bertahan
Periode ini,
gerakan nasionalisme di Indonesia lebih bersikap moderat dan penuh
pertimbangan. Diwarnai dengan sikap pemerintah Belanda yang sangat reaktif
sehingga organisasi-organisasi pergerakan lebih berorientasi bertahan agar
tidak dibubarkan pemerintah Belanda. Organisasi dan gerakan yang berkembang
pada periode ini adalah Parindra, GAPI, Gerindo.
Dari perkembangan
nasionalisme tersebut akhirnya mampu menggalang semangat persatuan dan
cita-cita kemerdekaan sebagai bangsa Indonesia yang bersatu dari berbagai suku
di Indonesia. Nasionalisme adalah rasa luhur yang dimiliki bangsa Indonesia,
cerminan dari komitmen yang pernah diikrarkan berpuluh-puluh tahun lampau,
bertolak dari rasa persaudaraan, senasib sepenanggungan.
Paham liberalisme di Indonesia
melahirkan keuntungan tersendiri, yaitu adanya Politik Etis. Dimana hal itu
kemudian membuat terjadinya perkembanagan pendidikan, seperti pendirian
sekolah-sekolah untuk penduduk pribumi Indonesia. Penduduk pribumi Indonesia
pun memiliki pengetahuan tentang betapa belenggu penjajahan selama ini
mengekang semua aktivitas penduduk pribumi, hal itu akhirnya juga memunculkan
perasaan kesadaran kebangsaan penduduk pribumi Indonesia.
Paham sosialisme merupakan tahap awal dari komunisme.
Di Indonesia paham komunisme diperkenalkan oleh Sneeveliet seorang pegawai
perkereta-apian yang berkebangsaan Belanda. Paham komunisme diwujudkan dalam pembentukan organisasi yang bernama
Indische Social Democratis The Vereeninging (ISDV). Pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV merubah
namanya menjadi Partai Komumunist Hindia yang pada bulan Desember tahun yang
sama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Organisasi ini adalah organisasi
yang bersifat non-kooperatif terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Organisasi
ini bersifat juga radikal dengan mnginginkan Indonesia merdeka.
Dengan lahirnya paham-paham
besar di Eropa tersebut mendorong
rakyat Indonesia sadar akan rasa kebangsaan. Mereka harus bersatu untuk melawan
para penjajah yang telah memberikan berbagai penderitaan. Rasa kebangsaan
tersebut diimplemntasikan dengan pembentukan organisasi yang bergerak mentang
penjajah dan menuntut Indonesia merdeka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar